Kisah Hidup Alam dan Manusia Papua Dalam Festival Film Papua Ke-VIII

Setiap Bulan Agustus, sejak tahun 2017, Perkumpulan Papuan Voices (PV) mengangkat cerita dan pergumulan orang asli Papua melalui film. Sebelum tahun 2017, sejak tahun 2011, PV yang belum mendapat pengakuan hukum sebagai bentuk ‘Perkumpulan’, sudah memproduksi kisah pergumulan orang asli Papua dan kehidupannya dalam video-video berdurasi pendek 5-10 menit. Video-video ini diproduksi oleh anak muda asli Papua. Setelah mendapatkan bekal cara memproduksi video, anak muda asli Papua, atau lebih tepatnya masyarakat adat Papua, adalah mereka yang terdampak langsung atau bagian dari kisah itu. Mereka tak kenal lelah memproduksi kisahnya ke publik. Waktu kian berjalan, tuntutan terus bertambah, kisah pilu semakin menjadi-jadi.  Pada akhir tahun 2016, PV bersepekat menyelenggarakan Festival Film Papua (FFP) sebagai media untuk menyatukan kisah pilu, kebahagiaan itu dalam satu layar besar. Pada Agustus 2017, PV menyelenggarakan FFP pertama kalinya di Kota Merauke. sejak itu, FFP menjadi agenda tahunan PV. Berbagai macam tema yang diangkat di dalam FFP. Semuanya tetap bersandar pada kehidupan orang asli Papua, hubungannya dengan alam dan perjuangan mempertahankan adat kebudayaannya. Festival Film ini adalah festival film documenter sehingga kisah yang diangkat adalah kisah nyata tanpa setingan. Para filmmaker PV tetap menjaga keaslian kisah dari narasumber serta keadaan apa adanya. Mereka juga tetap mengikuti dasar dan perkembangan memproduksi film documenter pada umumnya. Pelaksaan FFP ini juga dilaksanakan secara bergiliran di wilayah kerja PV di seluruh Tanah Papua. FFP pernah dilaksanakan di Kota Sorong pada tahun 2019, Kota Biak (2022), Wamena (2024).

Festival Film Papua VIII: Alam dan Kehidupan Manusia Papua

Pada 07-09 Agustus 2026, di tahun ini, PV dan Panitia FFP VIII mengangkat tema Alam dan Kehidupan Manusia Papua. Berdasarkan tema ini, banyak kisah pilu, kisah perjuangan, kisah keharmonisan dengan seluruh ciptaan, kisah tentang menjaga tradisi atau nilai-nilai luhur, dipertontonkan dan didiskusikan bagi publik. Menariknya seperti tahun-tahun sebelumnya, FFP terbuka untuk umum dan gratis. Hal ini dimaksudkan agar publik yang hadir pada FFP merasa bahwa kisah yang diangkat adalah kisahnya sendiri. Selain itu ada mimpi bahwa PV adalah milik orang Papua, khususnya generasi muda Papua yang ingin berkisah melalui film documenter. Hal ini seperti yang disampaikan oleh Ketua Nasional PV Assa Asso,

“Festival Film Papua yang ke-8 ini menjadi ruang untuk menyuarakan kisah-kisah yang lahir dari realita kehidupan masyarakat Papua. Di tengah berbagai tantangan, mulai dari pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, persoalan lingkungan hingga hak-hak masyarakat adat, film menjadi medium untuk merekam pengalaman, membuka ruang dialog, dan menyampaikan suara dari berbagai penjuru Tanah Papua. Kami menghadirkan suara-suara dari kaum pinggiran, mereka yang terus berjuang mempertahankan kehidupan, budaya, dan ruang hidupnya. Kami percaya hutan, sungai, dan tanah adat bukan sekadar sumber penghidupan, tetapi merupakan warisan budaya, sejarah, identitas yang harus dijaga.”

Pada Juni-Juli 2026, Badan Pengurus Nasional PV dan Panitia FFP VIII terlihat sibuk dengan berbagai persiapan. Masing-masing seksi melaksanakan tanggung jawabnya. Rencana awal FFP VIII dilaksanakan di Timika akhirnya dipindahkan ke Kota Port Numbay, Jayapura. Festival Film kali ini agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Biasanya ada tiga agenda utama yang dilaksanakan yakni Kompetisi Film Dokumenter, Workshop dan Nonton Film Dokumenter. Di FFP VIII, agenda Kompetisi Film Dokumenter tidak digelar karena beberapa alasan teknis. Dua agenda lainnya tetap dilaksanakan. Agenda Workshop, PV dan Panitia FFP VIII bersepakat untuk belajar bersama pengarsipan, keamanan data serta verifikasi data audio visual dan laporan. Panitia FFP dan PV mengundang dua tokoh yang melintang buana di dunia pengarsipan yakni Riksa Afiaty dan Irfan Darajat. Riksa sendiri adalah pekerja seni, sebagai curator. Irfan adalah seorang dosen di universitas ternama di Yogyakarta, UGM. Dia dosen bagian pengarsipan. Kesempatan yang langkah bagi peserta dan PV, didampingi oleh dua orang ‘professor’. Pelatih lainnya adalah Kartika Partiwi. Dia ahli di bidang keamanan data dan melakukan verifikasi data. Mereka bertiga membagikan ilmu dan pengalamannya kepada para peserta dan anggota PV.

Di luar ruangan, masyarakat adat Papua yang hadir sibuk di stand-stand yang disiapkan oleh Panitia FFP VIII. Mereka mengisi standnya dengan tulisan, foto-foto, buku-buku yang menceritakan Papua dan Alamnya. Di sisi lainya, ada yang mengisinya dengan menjual makanan lokal Papua, miuman seperti kopi dan lainnya bagi para pengunjung FFP VIII.

Acara Nonton Film

Pada sore di tanggal 07-09 Agustus 2026, banyak orang mulai berdatangan ke Asrama Liborang Padang Bulan. Tentunya mereka ingin menyaksikan kisah-kisah tentang alam, manusia dan adat kebiasaan orang asli Papua dari berbagi wilayah, dari Sorong sampai Merauke, Sorong sampai Jayapura, Sorong sampai Wamena, Sorong sampai Samarai. Panitia FFP VIII menyediakan dua layar bioskop, di dalam dan luar Asrama Liborang. Para curator FFP VIII juga menyuguhkan film-film documenter yang menarik tentang Papua. Semua film ini dapat diakses di booklet FFP VIII. Salah satu hal yang menarik adalah, seperti tahun-tahun sebelumnya, perayaan hari lahirnya Mambesak juga dirayakan. Grup Musik Mambesak yang lahir pada 5 Agustus selalu dirayakan. Beberapa film yang diputar dalam FFP VIII adalah mengenang perjalanan Grup Musik Legendaris Papua, Mambesak. Kisah Mambesak dapat dinonton pada film Muma Minggil karya Mahardika Yudha dan Yonri Revolt dan Film Abadi dan Sunyi karya Fransiska Manam. Semakin terharu dan meriah, dengan kehadiran seorang anggota Mambesak pada sesi nonton. Selain itu ada suguhan kolaborasi antara Grup Musik Assor Akuistik (Mambesak Junior) dan salah satu anggota Mambesak Senior, Bapak Dani Mandowen.

Film-film yang diputar berdasarkan tema yang sudah dikurasi, diselingi dengan ruang diskusi dan sharing pengalaman serta pengetahuan penonton yang hadir. Di hari pertama pada Jumat, 07 Agustus, film-film yang diputar adalah Muma Minggil, Dipenjara dan West Papua; A Journey to Freedom. Di hari kedua Sabtu, 08 Agustus, film-film yang diputar adalah Lamek, Sekolah Ka Sekolah, Melawan Stigma, Sa Pu Nama Pengungsi, Aku Adalah Bapa dan Mama, Sa Butuh Ko Pu Cinta, Tutaha Subang, Sekolah Adat Perempuan Papua untuk Mencegah Pernikahan Dini, Sayur Sarjana, Abadi dan Sunyi, Gereja 1 dan 2, Heleahili, Jiwi Pokumbu, Sa Pu Bahasa Itu Sa Pu Jati Diri, Pulang Ke Yobeh, Menanam Kehidupan, Marhawah. Di hari ketiga, 09 Agustus, film-film yang diputar adalah Yang Hilang Tinggal Nama, Yawa Datum, Ro Swan Ma Sup Nafi Uker Sarisa, Tunda, Mama Nela Penjaga Benteng Hijau, The Muyu Tribe and Their Noken (Men) Weaving, Mama Lihat Awan Jatuh, Afsya: Membela Hutan Adat dan Asu Pemige Sawa Pemige. Melihat judul-judul film yang diputar pada FFP VIII dapat dikatakan filmnya ‘Papua Banget’. Iya gaya penuturan judul film sangat Papua. Selain itu bahwa generasi muda asli Papua yang mendominasi sebagai sutradara dan filmmaker di filmnya masing-masing. Hal ini semakin menguatkan dan menunjukan bahwa PV dengan FFP-nya tetap dan fokus pada narasi masyarakat adat Papua, narasi yang apa adanya bukan tentang ada apanya.

Merayakan Pesta Masyarakat Adat Internasional

Salah satu tujuan FFP yang diselenggarakan oleh PV adalah merayakan perjuangan, merayakan kisah hidup Masyarakat Adat di seluruh dunia, khususnya di Tanah Papua. Selain pemutaran film, Panitia FFP tetap memberikan ruang kepada masyarakat adat Papua yang tergabung di dalam grup music akuistik untuk menampilkan kisahnya melalui music. Panitia memberikan kesempatan kepada anak muda Papua yang mengkisahkan hidupnya melalui puisi dan tarian serta syairnya. Panggung FFP VIII di Asrama Liborang bukan satu-satunya panggung bagi PV untuk merayakan FFP dan Hari Masyarkat Adat Internasional. Di beberapa wilayah PV seperti di Kota Merauke, Wamena, Yapen, Biak, Fakfak, Paniai dan Nabire, Grime Jayapura dan Sorong juga melakukan FFP VIII. Film-film yang diputar di wilayah-wilayah tersebut adalah film-film yang sama diputar di Asrama Liborang Padang Bulan.

“Kami melakukan Festival Film Papua di Jayapura tetapi kami juga melakukan festival film mini di beberapa wilayah. Fakfak, Sorong, Yapen, Nabire dan Wamena. Kami bergerak bersama-sama dalam festival film ini. Mengapa tahun ini kami mengangkat tema Alam dan Kehidupan Manusia Papua. Ini sudah jelas, persoalan itu bukan hanya soal hak ulayat, identitas, lingkungan dan sebagainya, tetapi semua yang berbicara tentang Papua,” ungkap Ketua Panitia FFP VIII Max Wayeni.

Ketua Nasional PV Assa Asso atau yang biasa disapa Straky Yalli, menyampaikan hormat dan baktinya kepada semua masyarakat adat di seluruh dunia, khususnya di Tanah Papua. Bagi Assa, perjuangan masyarakat adat Papua untuk melawan ketidakadilan, perjuangan untuk merawat hutan, mempertahankan tradisi, telah memberikan pelajaran dan pengetahuan berharga bagi para generasi muda Papua.

“Oleh karena itu saya secara resmi pada malam ini, atas nama tulang belulang yang sudah menyuburkan tanah ini untuk kami jaga, atas nama perjuangan masyarakat adat, saya secara resmi menutupi acara kegiatan ini. Waaa..waaa…”,tutur Assa yang ditutupi dengan menabuh tifa yang telah disiapkan.

Semua kisah pergumulan, perjuangan dan keharmonisan atua keutuhan kehidupan masyarakat adat Papua yang diangkat dalam setiap film di FFP VIII mengetuk dan menyadarkan semua orang untuk selalu mendengarkan suara orang-orang kecil dari berbagai pelosok di Tanah Papua.

Oleh Bernard Koten (JPIC OFM Papua)

Bagikan artikel ini