Tak Terbayang Keadilan dan Berpulangnya Pembangunan Tanpa Perasaan

Buku ‘Tak Terbayang Keadilan’ yang diproduksi oleh Yayasan Pusaka dan Satya Bumi merupakan sebuah laporan yang berisi tentang kesaksian para korban (masyarakat kecil) terkait dengan perampasan alam oleh PSN di wilayah Selatan Papua. Kisah ketidakadilan dari masyarakat adat di wilayah Selatan Papua yang mungkin selama ini tak terdengarkan, coba diangkat bergaya narasi dan sederhana. Bahasa-bahasa seperti ‘Baku Tipu’, Kitong Pu Tanah Dong Klaim’, ‘Dorang Pu Kelakuan Munafik’ yang berkhas Papua memberikan warna unik dari buku ini. Yang lebih penting dan besar dari buku ini adalah kisah para korban terkait dengan keterlibatan militer dan ekstraktivisme. 

Alam, hutan dan segala isinya yang menjadi sumber kehidupan, ekonomi, budaya dan kepercayaan, dhilangkan dengan paksa tanpa melibatkan masyarakat adat pemilik hak ulayat. Hal ini terungkap dari salah satu pernyataan yang disampaikan oleh korban di dalam buku ini.

“Dusun-dusun ini tempat perjalanan moyang dulu. Tempat kitong ambil makanan, tempat ambil peralatan adat, tempat ambil kayu, kulit pohon bus untuk bangunan, kita punya tempat keramat juga pemerintah dorang sudah kasih hancur”

Buku kedua yang berjudul ‘Berpulangnya Pembangunan Tanpa Perasaan’  berbeda dengan yang pertama. Buku kedua ini lebih menceritakan perjalanan panjang segala macam kebijakan atau proyek pembangunan yang dijalankan di Selatan Papua. Mengkisahkan para rezim di Negara Indonesia yang dinilai ‘tanpa perasaan’ mengabaikan apa yang ada dan yang dialami oleh masyarakat adat di Selatan Papua.

Buku kedua ini sangat padat berisi tentang informasi akademis yang dianalisa secara kompherensif oleh para penulis buku.

Kedua buku ini dilaunching dan didiskusikan dalam acara Elegi Selatan Papua di Jayapura, 13 Agustus 2026.

Bagikan artikel ini