Catatan Kritis atas Materi Fra Gonzalo Collipal Osses, OFM
“Muerte y Resurrección en el Antiguo Testamento” (Curso Anual JPIC 2026)
Pendahuluan
Materi yang disampaikan oleh Fr. Gonzalo Collipal Osses, OFM, menawarkan pembacaan yang kaya mengenai perkembangan gagasan kematian dan kebangkitan dalam Perjanjian Lama. Fr. Gonzalo merupakan imam Fransiskan asal Chili dan pakar Kitab Suci yang saat ini mengajar di Universitas Katolik Kepausan Valparaíso serta di Centro de Estudios Filosóficos y Teológicos (CEFyT), Argentina. Setelah menyelesaikan studi filsafat dan teologi di Chili, ia memperdalam kajian bahasa-bahasa biblis dan arkeologi di Yerusalem, lalu memperoleh Lisensiat Teologi Biblis dari Universitas Kepausan Santo Thomas Aquinas (Angelicum), Roma. Sejak tahun 2025, ia juga menjabat sebagai Rektor para frater mahasiswa dan Vikaris Lokal di Kolese Internasional Santo Antonius, Roma. Latar belakang akademik dan pengalaman formasinya membentuk pendekatan yang memadukan ketelitian eksegetis dengan kepekaan pastoral terhadap persoalan-persoalan sosial yang dihadapi Gereja dan dunia dewasa ini.
Berangkat dari pendekatan historis-teologis, Fr. Gonzalo menunjukkan bahwa iman akan kebangkitan tidak muncul secara tiba-tiba dalam tradisi Israel, melainkan berkembang secara bertahap melalui pengalaman penderitaan, ketidakadilan, dan krisis yang dialami umat Allah. Harapan akan kebangkitan lahir ketika orang-orang benar menghadapi kenyataan bahwa kesetiaan kepada Allah justru membawa mereka pada penganiayaan, penderitaan, bahkan kematian tanpa memperoleh keadilan dalam sejarah. Dalam Kitab Daniel, misalnya, gagasan kebangkitan muncul sebagai jawaban teologis atas nasib para martir yang dibunuh karena kesetiaan mereka kepada Allah. Dengan demikian, kebangkitan bukan sekadar doktrin mengenai kehidupan setelah kematian, melainkan afirmasi iman bahwa Allah tetap setia kepada para korban sejarah dan bahwa kematian, ketidakadilan, serta kekerasan tidak pernah memiliki kata terakhir.
Dalam refleksinya, Fr. Gonzalo kemudian menghubungkan tema biblis tersebut dengan nilai-nilai Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC) serta visi integral yang ditawarkan dalam Laudato Si’. Ia memperluas makna kematian sehingga tidak hanya dipahami sebagai peristiwa biologis, tetapi juga sebagai berbagai bentuk kematian sosial yang hadir dalam kemiskinan, eksklusi, kekerasan struktural, perampasan hak-hak masyarakat adat, dan penghancuran lingkungan hidup. Sebaliknya, kebangkitan dipahami sebagai panggilan untuk membela kehidupan, memulihkan martabat manusia, memperjuangkan keadilan, dan mentransformasi struktur-struktur yang menghasilkan penderitaan. Dalam semangat Fransiskan dan JPIC, refleksi ini berupaya mengembangkan lebih lanjut perspektif tersebut dengan membaca realitas Papua sebagai locus theologicus, tempat Sabda Allah terus berbicara melalui jeritan orang miskin, korban kekerasan, masyarakat adat yang kehilangan tanahnya, serta seluruh ciptaan yang terluka. Dari perspektif Memoria Passionis, pengalaman mereka bukan sekadar fakta sosial yang harus dicatat, melainkan memori penderitaan yang menuntut keberpihakan, solidaritas, dan keterlibatan aktif Gereja dalam menghadirkan tanda-tanda kebangkitan di tengah sejarah.
Kekuatan Teologis Materi
Kekuatan utama refleksi ini terletak pada keberhasilannya menghubungkan Kitab Suci dengan realitas sosial kontemporer. Kebangkitan tidak diperlakukan sebagai pelarian spiritual dari dunia, melainkan sebagai sumber harapan yang mendorong keterlibatan aktif dalam sejarah. Dengan demikian, iman Kristen tidak berhenti pada keselamatan individual, tetapi menjadi energi spiritual untuk membangun keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan.
Perspektif ini sangat sejalan dengan spiritualitas Fransiskan dan visi JPIC. Fransiskus Assisi tidak memandang penderitaan dunia sebagai sesuatu yang harus dihindari, tetapi sebagai tempat perjumpaan dengan Kristus yang tersalib. Karena itu, kebangkitan tidak dapat dipisahkan dari solidaritas terhadap mereka yang menderita.
Catatan Kritis dari Perspektif JPIC dan Memoria Passionis
Walaupun materi ini sangat kuat secara teologis, terdapat satu aspek yang dapat diperdalam lebih jauh. Refleksi Fra Gonzalo masih berpusat pada perkembangan ide atau doktrin kebangkitan dalam sejarah Israel. Namun, dari perspektif JPIC dan konsep Memoria Passionis (ingatan akan penderitaan), pertanyaan yang lebih mendesak bukan hanya: “Bagaimana gagasan kebangkitan berkembang?” melainkan juga: “Siapa yang hari ini sedang mengalami kematian sosial dan menantikan kebangkitan?”
Dalam tradisi Memoria Passionis, penderitaan para korban bukan sekadar objek refleksi teologis, melainkan locus theologicus—tempat di mana Allah berbicara dan menyatakan diri-Nya. Johann Baptist Metz menegaskan bahwa iman Kristen harus selalu menjaga ingatan akan penderitaan korban sejarah agar mereka tidak dilupakan oleh narasi kemajuan, pembangunan, maupun kekuasaan.
Dari perspektif ini, teks Daniel 12 tidak hanya berbicara tentang para martir Yahudi abad kedua sebelum Masehi. Teks itu juga berbicara tentang semua komunitas yang hingga kini hidup dalam situasi ketidakadilan dan pengungsian paksa. Kebangkitan menjadi bahasa iman yang menolak menerima penderitaan korban sebagai sesuatu yang normal atau tak terhindarkan.
Membaca Realitas IDPs Papua
Dalam konteks Papua, refleksi ini memperoleh makna yang sangat konkret ketika dibaca bersama pengalaman para Internally Displaced Persons (IDPs) atau pengungsi internal akibat konflik bersenjata dan kekerasan struktural.
Ribuan orang Papua telah meninggalkan kampung halaman mereka dan hidup bertahun-tahun dalam kondisi yang tidak pasti. Banyak yang kehilangan tanah adat, akses pendidikan, pelayanan kesehatan, dan sumber penghidupan. Dalam bahasa Fra Gonzalo, mereka sedang mengalami bentuk-bentuk “kematian” yang melampaui kematian biologis: kehilangan martabat, keterputusan dari tanah leluhur, trauma kolektif, serta eksklusi sosial.
Di sinilah konsep Sheol yang dibahas dalam materi memperoleh relevansi baru. Sheol tidak lagi hanya dipahami sebagai alam kematian dalam kosmologi Israel kuno, tetapi dapat dibaca sebagai metafora bagi ruang-ruang sosial di mana kehidupan manusia direduksi, dibungkam, dan dibuat tidak terlihat.
Banyak komunitas pengungsi internal Papua hidup dalam situasi yang menyerupai Sheol: terlupakan oleh perhatian publik, tidak memiliki perlindungan memadai, dan sering kali tidak diakui sebagai korban. Mereka menjadi “orang-orang yang hilang dari sejarah”, meskipun tetap hadir sebagai sesama manusia yang memiliki martabat.
Kebangkitan sebagai Keadilan bagi Korban
Dalam konteks Papua, kebangkitan tidak boleh direduksi menjadi harapan akan kehidupan sesudah mati. Kebangkitan harus dibaca sebagai janji Allah bahwa para korban tidak akan dilupakan.
Jika Daniel menegaskan bahwa Allah tetap setia kepada orang benar yang dibunuh oleh kekuasaan imperium, maka iman yang sama memanggil Gereja untuk berdiri bersama para korban pengungsian, kekerasan, dan peminggiran di Papua.
Dengan demikian, kebangkitan memiliki dimensi:
1. Pastoral, karena Gereja dipanggil mendampingi mereka yang terluka.
2. Profetis karena Gereja harus menyuarakan penderitaan yang sering disembunyikan.
3. Advokatif karena perlindungan terhadap IDPs bukan sekadar tindakan amal, tetapi persoalan keadilan.
4. Transformasional karena iman kepada Allah kehidupan menuntut perubahan struktur yang menghasilkan pengungsian dan kekerasan.
Penutup
Materi Fra Gonzalo berhasil menunjukkan bahwa iman akan kebangkitan lahir dari pengalaman penderitaan dan ketidakadilan. Namun dalam terang JPIC dan Memoria Passionis, refleksi tersebut perlu dilanjutkan dengan keberpihakan yang lebih eksplisit kepada para korban masa kini.
Bagi Papua, para IDPs bukan sekadar statistik kemanusiaan. Mereka adalah wajah-wajah yang terluka (volti feriti), wajah Kristus yang menderita di tengah sejarah. Mengingat mereka berarti menghidupi Memoria Passionis; mendampingi mereka berarti mewujudkan JPIC; dan memperjuangkan keadilan bagi mereka berarti memberi kesaksian bahwa Allah yang membangkitkan orang mati tetap bekerja dalam sejarah untuk memulihkan kehidupan.
Dengan demikian, kebangkitan bukan hanya harapan eskatologis tentang masa depan. Kebangkitan adalah panggilan untuk membangun tanda-tanda kehidupan baru di tengah mereka yang hari ini masih hidup dalam Sheol pengungsian, ketakutan, dan ketidakadilan. Di situlah iman Kristen menemukan relevansi profetisnya bagi Papua.