Pendahuluan
Materi Guerras y Conflictos Actuales en el Horizonte de una Paz Desarmada y Desarmante yang disampaikan oleh Nicolás Paz menawarkan refleksi yang sangat relevan bagi dunia yang semakin ditandai oleh konflik bersenjata, polarisasi politik, perlombaan senjata, dan normalisasi kekerasan. Nicolás Paz adalah mediator sipil dan pakar resolusi konflik yang terdaftar pada Kementerian Kehakiman Spanyol, Direktur Catholic Nonviolence Initiative dari Pax Christi International, anggota Catholic Institute for Nonviolence, serta dosen mediasi dan resolusi konflik di Universitas Kepausan Salamanca. Dengan latar belakang filsafat, ilmu politik, teologi perdamaian dan konflik, serta pengalaman internasional dalam bidang hak asasi manusia dan pembangunan perdamaian, ia mengembangkan pendekatan yang menggabungkan analisis konflik, etika politik, dan spiritualitas non-kekerasan Injili. Dalam presentasinya, ia mengajak peserta untuk “melucuti cara berpikir” (desarmar nuestro pensamiento) yang selama ini menganggap perang sebagai instrumen yang efektif dan tak terhindarkan dalam menyelesaikan konflik. Menurutnya, cara masyarakat memahami perang akan sangat menentukan bentuk respons yang dipilih. Karena itu, tantangan terbesar bukan hanya menghentikan kekerasan fisik, tetapi juga membongkar berbagai bias budaya, politik, dan epistemologis yang membuat kekerasan tampak normal, rasional, bahkan perlu. Ia menegaskan bahwa Injil menawarkan alternatif yang berbeda: non-kekerasan aktif sebagai metode perubahan sosial, spiritualitas perdamaian, dan tindakan politik yang berpusat pada martabat manusia serta relasi yang adil.
Bagi konteks Papua, refleksi ini memiliki relevansi yang sangat mendalam. Konflik bersenjata yang berlangsung selama puluhan tahun sering kali dipahami melalui paradigma keamanan negara versus ancaman separatisme, sehingga ruang untuk membayangkan alternatif non-kekerasan menjadi sangat terbatas. Akibatnya, perhatian publik lebih mudah tertuju pada peristiwa-peristiwa kekerasan yang spektakuler, sementara penderitaan sehari-hari masyarakat sipil—pengungsian internal, trauma kolektif, kemiskinan, kehilangan akses pendidikan dan kesehatan, serta rusaknya jaringan sosial—sering kali tidak terlihat. Dalam perspektif Fransiskan JPIC dan Memoria Passionis, realitas Papua mengundang Gereja untuk tidak hanya bertanya bagaimana menghentikan perang, tetapi juga bagaimana membangun kondisi yang memungkinkan perdamaian yang adil (just peace) bertumbuh. Refleksi berikut berupaya mengapresiasi kontribusi Nicolás Paz sekaligus mengembangkan pembacaan kritis terhadap relevansinya bagi Papua, khususnya dalam usaha membangun budaya dialog, perlindungan masyarakat sipil, dan transformasi konflik melalui jalan non-kekerasan yang berpihak kepada para korban.
Catatan Kritis atas Materi Nicolás Paz
1. Kekuatan utama: membongkar mitos efektivitas perang
Salah satu kontribusi paling penting dari materi Nicolás Paz adalah kritiknya terhadap apa yang ia sebut sebagai sesgo de efectividad de la guerra (bias efektivitas perang). Ia menunjukkan bahwa masyarakat modern sering menganggap perang sebagai sarana yang efektif untuk menyelesaikan konflik karena kekerasan lebih mudah terlihat, lebih mudah diukur, dan lebih sering diberitakan dibandingkan upaya-upaya non-kekerasan. Dalam kenyataannya, perang sering kali hanya menghasilkan lingkaran kekerasan baru dan memperpanjang penderitaan masyarakat sipil.
Refleksi ini sangat relevan untuk Papua. Selama bertahun-tahun, baik negara maupun kelompok bersenjata cenderung melihat penggunaan kekuatan sebagai jalan yang paling realistis untuk mencapai tujuan politik masing-masing. Negara mengandalkan pendekatan keamanan untuk menjaga integrasi nasional, sementara kelompok perlawanan bersenjata melihat perjuangan militer sebagai sarana mencapai aspirasi politik mereka. Namun setelah puluhan tahun konflik berlangsung, hasil yang terlihat justru adalah meningkatnya korban sipil, trauma sosial, serta pengungsian internal yang terus berulang.
Dengan demikian, pertanyaan yang diajukan Nicolás Paz menjadi sangat penting bagi Papua: jika perang telah berlangsung begitu lama tanpa menghasilkan perdamaian yang berkelanjutan, mengapa kekerasan masih dianggap sebagai solusi yang efektif?
2. Membaca Papua melalui paradigma kekerasan struktural
Materi ini juga sangat kuat ketika menyoroti kecenderungan masyarakat untuk hanya melihat kekerasan yang tampak secara fisik dan mengabaikan bentuk-bentuk kekerasan yang tidak terlihat. Nicolás Paz mengingatkan bahwa perhatian media dan politik sering terfokus pada pertempuran, serangan, atau korban tewas, sementara penderitaan yang bersifat struktural sering luput dari perhatian.
Dalam konteks Papua, perspektif ini sangat penting. Konflik tidak hanya terjadi melalui kontak senjata antara aparat keamanan dan kelompok bersenjata. Kekerasan juga hadir dalam bentuk kemiskinan struktural, marginalisasi masyarakat adat, ketimpangan pembangunan, diskriminasi rasial, kriminalisasi aktivis, kerusakan lingkungan akibat eksploitasi sumber daya alam, serta pengungsian berkepanjangan.
Di sini perspektif JPIC membantu memperluas pemahaman tentang konflik. Perdamaian tidak cukup dipahami sebagai tidak adanya tembakan. Perdamaian harus mencakup pemulihan hak-hak masyarakat adat, perlindungan lingkungan hidup, akses terhadap pendidikan dan kesehatan, serta penghormatan terhadap martabat manusia.
3. Non-kekerasan sebagai strategi politik, bukan sekadar sikap moral
Nicolás Paz menolak anggapan bahwa non-kekerasan hanyalah idealisme moral yang tidak realistis. Ia menegaskan bahwa non-kekerasan adalah metode perubahan sosial yang konkret, yang mampu melindungi komunitas, mentransformasi konflik, dan membangun masyarakat yang lebih adil.
Poin ini penting karena dalam konteks Papua, dialog sering dianggap sebagai tanda kelemahan, sementara penggunaan kekuatan dianggap sebagai tanda ketegasan. Padahal sejarah dunia menunjukkan bahwa banyak konflik panjang berhasil mengalami transformasi melalui negosiasi politik, mediasi, rekonsiliasi, dan mobilisasi sipil non-kekerasan.
Namun demikian, di sinilah muncul pertanyaan kritis. Materi Nicolás Paz belum banyak menjelaskan bagaimana strategi non-kekerasan dapat dijalankan ketika terdapat ketimpangan kekuasaan yang sangat besar antara para pihak yang berkonflik. Dalam konteks Papua, masyarakat sipil sering berada dalam posisi yang sangat rentan. Karena itu, non-kekerasan tidak cukup hanya dipahami sebagai pilihan etis, tetapi harus disertai mekanisme perlindungan hak asasi manusia, pemantauan independen, dan dukungan internasional yang mampu menciptakan ruang aman bagi dialog.
4. Inspirasi Fransiskan: dari Gubbio ke Papua
Salah satu bagian paling menarik dari presentasi ini adalah penggunaan kisah Santo Fransiskus yang pergi menemui Sultan Malik al-Kamil di tengah Perang Salib. Nicolás Paz menafsirkan tindakan Fransiskus sebagai keberanian untuk melintasi batas-batas permusuhan, memasuki wilayah yang dianggap berbahaya, dan membangun relasi dengan pihak yang dipandang sebagai musuh.
Bagi Papua, simbol ini sangat kuat. Konflik yang berlangsung lama telah menciptakan tembok-tembok ketidakpercayaan antara berbagai kelompok. Dalam situasi seperti ini, perdamaian hanya mungkin bertumbuh jika ada keberanian untuk mendengarkan pengalaman pihak lain tanpa terlebih dahulu menghakimi atau menstigmatisasi.
Perspektif Fransiskan mengingatkan bahwa perdamaian tidak lahir pertama-tama dari kemenangan satu pihak atas pihak lain, melainkan dari perjumpaan yang memulihkan kemanusiaan bersama.
5. Perspektif Memoria Passionis: suara korban sebagai titik berangkat
Meskipun materi Nicolás Paz berbicara banyak tentang non-kekerasan dan perdamaian, refleksi ini dapat diperdalam melalui konsep Memoria Passionis yang dikembangkan oleh Johann Baptist Metz dan banyak dihidupi dalam tradisi JPIC Fransiskan.
Dalam Memoria Passionis, refleksi tentang perdamaian harus selalu dimulai dari ingatan akan penderitaan para korban. Papua tidak dapat dibaca hanya sebagai persoalan keamanan, politik, atau pembangunan. Papua adalah ruang kehidupan manusia yang menyimpan kisah-kisah penderitaan yang nyata: keluarga yang kehilangan anggota keluarganya, masyarakat adat yang kehilangan tanah leluhur, anak-anak yang tumbuh di pengungsian, dan komunitas yang hidup dalam ketakutan berkepanjangan.
Dari perspektif ini, perdamaian bukan sekadar penghentian kekerasan bersenjata. Perdamaian menuntut pengakuan atas penderitaan korban, pemulihan martabat mereka, pencarian kebenaran, dan transformasi struktur-struktur yang menghasilkan kekerasan. Tanpa dimensi tersebut, perdamaian berisiko menjadi sekadar stabilitas politik yang menutupi luka-luka yang belum disembuhkan.
Kesimpulan
Materi Nicolás Paz memberikan kontribusi yang sangat berharga bagi refleksi Gereja mengenai perang, konflik, dan pembangunan perdamaian. Kekuatan utamanya terletak pada keberaniannya membongkar asumsi bahwa perang adalah solusi yang efektif serta menawarkan non-kekerasan sebagai paradigma alternatif yang berakar pada Injil, etika universal, dan tindakan politik yang bertanggung jawab. Bagi Papua, pendekatan ini membuka ruang untuk membayangkan masa depan yang tidak lagi didasarkan pada logika kemenangan militer, melainkan pada pembangunan relasi yang adil dan bermartabat.
Namun refleksi tersebut juga perlu diperdalam melalui perspektif JPIC Fransiskan dan Memoria Passionis. Dalam konteks Papua, perdamaian sejati tidak dapat dibangun tanpa mendengarkan jeritan para korban, mengakui luka-luka sejarah yang masih terbuka, serta melakukan transformasi terhadap struktur-struktur ketidakadilan yang melanggengkan konflik. Dengan demikian, non-kekerasan bukan sekadar strategi penyelesaian konflik, melainkan panggilan iman untuk berdiri bersama mereka yang menderita dan membangun “perdamaian yang melucuti dan dilucuti” (una paz desarmada y desarmante) yang berakar pada keadilan, kebenaran, dan solidaritas.