Sentani, Papua — Umat Katolik Paroki Sang Penebus Sentani menggalang solidaritas bagi jemaat GIDI di Yahukimo yang menjadi pengungsi internal akibat gelombang baru konflik bersenjata antara TPNPB/OPM dan TNI/Polri. Aksi ini difasilitasi oleh JPIC OFM Papua, yang membantu mengoordinasikan kebutuhan dan jalur distribusi bantuan agar sampai kepada para pengungsi.
Pengumuman aksi solidaritas disampaikan di mimbar gereja pada Minggu, 15 Maret 2026. Sejak itu, umat bersama Orang Muda Katolik (OMK) mengumpulkan pakaian layak pakai selama satu minggu penuh hingga Minggu, 22 Maret 2026. Gelombang pertama bantuan berupa 10 koli pakaian layak pakai berhasil dikirim pada Senin, 23 Maret 2026.
Pengiriman kedua direncanakan pada Senin depan, sesuai jadwal pesawat menuju Dekai, ibu kota Yahukimo. Selain pakaian, kebutuhan mendesak lain yang sedang dikoordinasikan adalah alat mesin cukur rambut dan jenggot serta obat-obatan. Hal ini penting karena masyarakat sipil yang mengenakan pakaian seragam dan tidak mencukur rambut atau jenggot sering dicurigai sebagai anggota TPNPB/OPM.
Dalam semangat Prapaskah, umat diajak untuk menjadikan aksi sederhana ini sebagai wujud nyata pertobatan dan kasih. Bantuan yang dikumpulkan tidak hanya berupa pakaian, tetapi juga obat-obatan sesuai daftar kebutuhan serta alat potong rambut, agar para pengungsi dapat hidup lebih aman dan sehat di tengah keterbatasan.
Dalam konteks lebih luas, hingga awal 2026, jumlah pengungsi internal di Papua diperkirakan mencapai lebih dari 105 ribu orang. Mereka tersebar di berbagai kabupaten pegunungan tengah, termasuk Yahukimo, Nduga, Intan Jaya, dan Puncak. Yahukimo sendiri menjadi salah satu titik terbesar gelombang baru pengungsian, dengan ribuan jemaat GIDI dari lima gereja terpaksa meninggalkan kampung halaman. Kondisi ini menunjukkan bahwa aksi solidaritas umat Sentani merupakan bagian dari kebutuhan kemanusiaan yang sangat mendesak.
Daftar obat-obatan yang sedang dipersiapkan mencakup kebutuhan dasar hingga peralatan medis penting, mulai dari antibiotik, vitamin, tensimeter, nebulizer, hingga tabung oksigen. Semua ini diharapkan dapat membantu pengungsi yang tidak hanya kehilangan rumah, tetapi juga akses terhadap layanan kesehatan.
Dengan semangat Prapaskah, umat Katolik Sentani menegaskan bahwa puasa pembangunan bukan sekadar ritual, melainkan panggilan untuk berbagi kasih dan harapan. JPIC OFM Papua hadir sebagai fasilitator, memastikan bahwa aksi solidaritas umat dapat tersalurkan dengan baik kepada jemaat GIDI yang menderita di Yahukimo, sekaligus menjadi bagian dari gerakan kemanusiaan yang lebih luas di Papua.



